Kedaulatan Digital

Sosialisme Kerakyatan

 

Sosialisme Kerakyatan adalah landasan pemikiran untuk mencapai etika-sosial (social-ethical) sebagai tujuan akhir. Pemikiran yang lahir sebagai antisipasi kondisi masyarakat sedang melalui krisis, dimana stabilitasnya secara serius telah terganggu. Ancaman tersebut bersumber dari berkembangnya anarki ekonomi dari masyarakat kapitalis sebagaimana yang terjadi sejak industry berkembang dan melewati proses pematangan yang bertumpu pada inovasi teknologi.

 

Pencapaian sosialisme membutuhkan solusi yang sangat sulit jika tidak dilakukan secara massif dan holistic di setiap sektor. Beberapa problem sosial politik: Bagaimana mencegah para birokrat menjadi terlalu berkuasa dalam kondisi kekuatan politik dan ekonomi terpusat yang sangat solid? Bagaimana hak-hak individu untuk setara dalam membangun kesejahteraan dapat dilindungi dan dengan demikian keseimbangan demokratis dengan kekuasaan birokrasi dapat dijamin?

 

Kejelasan akan tujuan dan permasalahan sosialisme adalah sangat signifikan dalam era industri yang telah berkembang pesat saat ini. Kebenarannya dari tinjauan kemanusiaan dan keadilan adalah hakiki. Maka pencapaiannya adalah kewajiban mutlak yang diemban oleh setiap dari kita.

 

Ketika kesamaan visi-misi telah tercapai, maka kegiatan para penegak Sosialisme Kerakyatan terfokus pada tiga aktivitas, yaitu peningkatan keterampilan, penguasaan atau pemahaman teknologi, implementasi model di lingkungan sekitar.

Peningkatan Keterampilan

Keterampilan adalah salah satu kunci utama kedaulatan. Dengan meningkatkan keterampilan, maka ketergantungan dapat diturunkan

Penguasaan Teknologi

Teknologi adalah salah satu alat kontrol sumber ekonomi. Dengan memahami bagaimana teknologi bekerja, maka sumber ekonomi dapat dimiliki

Formulasi Model

Pemahaman model-model ekonomi yang semakin beragam dan unik, adalah tumpuan pembangunan kesejahteraan.

Aktivitas

Merajut Jejaring

Jejaring yang kuat dan solid adalah landasan bagi terbentuknya masyarakat sosialis yang mandiri dan sejahtera

Memurnikan Semangat

Masyarakat sosialis yang dibangun adalah rakyat yang bersemangat murni, tanpa pamrih keuntungan individu atau golongan.

Realisasi Program

Program yang dibuat selalu realistis dan tidak utopis, sehingga dampak nyata dapat langsung dinikmati masyarakat secara luas.

Formulasi Model

Keberagaman masyarakat adalah komponen yang memperkaya formula model yang dikembangkan.

Mengukuhkan Pondasi

Kemandirian adalah pondasi yang dibangun demi mencegah kontaminasi dalam bentuk apapun

Membangun Energi Massa

Kolektivitas adalah energi yang terkoordinasi secara generik oleh kesamaan cita-cita

Industri Kita

Ekonomi Digital

Inovasi teknologi adalah lokomotif bagi pertumbuhan sektor-sektor industry secara global. Produk yang berbasis inovasi teknologi, tidak dibuat berdasarkan adanya permintaan pasar, karena pasar tercipta melalui adanya invensi yang menjadi inovasi teknologi. Inovasi tersebut terjadi di setiap sektor yang semakin lama semakin bergantung kepada kecanggihan produk-produk teknologi digital. Baik di sektor agraris, maritim, keuangan, maupun kesehatan serta Pendidikan.

Dengan memahami pertumbuhan sektor yang dipimpin oleh inovasi teknologi dari sektor digital yang sangat cepat berputar, maka inisiatif pembuatan kebijakan serta rencana implementasi harus lebih pro-aktif dan antisipatif, ketimbang reaktif. Luasnya sebaran produk-produk teknologi digital tersebut membuat industri semakin menumpukan pertumbuhannya kepada perkembangan teknologi tersebut.

Hal ini membuat posisi sektor telekomunikasi, dengan teknologi digital didalamnya, menjadi semakin strategis dalam konteks pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Perekonomian dunia saat ini banyak dipengaruhi perkembangan dunia digital. Di Indonesia, dapat dikatakan jumlah 171 juta lebih pengguna internet di Indonesia memberikan kontribusi baru yang signifikan terhadap PDB. Bank Indonesia menyebutkan bahwa di tahun 2019 ini, jumlah transaksi e-commerce per bulannya mencapai Rp11 triliun–Rp13 triliun. Bahkan nilai pasar e-commerce Indonesia dinilai akan mencapai sekitar Rp910 triliun pada 2022 (proyeksi McKinsey & Co).

Penghitungan jumlah pengguna dan total trafik serta nilai ekonomi yang tumbuh diatasnya tersebut baru mendata populasi yang terdapat di perkotaan dan sekitarnya. Sementara jika melihat 122 daerah 3T dengan 30 juta populasi di dalamnya, maka potensi yang tersimpan dengan mudah dapat diperkirakan. Yaitu 18 persen dari total pengguna internet yang menghasilkan putaran ekonomi hanya dari e-commerce, sama dengan 23 trilyun rupiah, belum menghitung putaran ekonomi digital lainnya.

Sementara itu, penghitungan total trafik yang dikalkulasi oleh APJII pada awal bulan Desember 2019 untuk arus masuk internet dari jalur-jalur yang melewati Palapa Ring adalah mencapai 12 Terrabit per second (Tbps). Penghitungan tersebut didasari acuan jumlah pengguna internet hasil survey APJII yaitu sebanyak 171,17 juta pengguna dari 265 juta penduduk, rata-rata kecepatan internet yang disurvey oleh We Are Social, dan rasio pertentangan (contention ratio) sebesar 1:150, yang dihitung berdasarkan rata-rata contention ratio ISP anggota APJII.

Dari total trafik tersebut, terdeteksi bahwa trafik domestik di Open IX dan Indonesia Internet Exchange (IIX) hanya 1,13 Tbps. Sehingga terlihat bahwa dari toal 12 Tbps total trafik, sebesar 10,87 Tbps adalah trafik internasional. Jadi trafik internasional yang diimpor masuk adalah sebesar 91% dari total trafik internet di Indonesia, sedangkan trafik domestik hanya berkisar 9% dari total trafik.

Sebagai sektor strategis, maka peningkatan sumber daya manusia di sektor ini harus menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan di Indonesia. Pemahaman setiap kelompok masyarakat di sektor ini adalah investasi yang akan mendatangkan keuntungan baik jangka pendek maupun jangka panjang, sekaligus mengantisipasi potensi kerugian yang akan terjadi, jika tidak dilakukan.

Kedaulatan Pangan

Kedaulatan Pangan adalah konsep pemenuhan pangan melalui produksi lokal. Kedaulatan pangan merupakan konsep pemenuhan hak atas pangan yang berkualitas gizi baik dan sesuai secara budaya, diproduksi dengan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Artinya, kedaulatan pangan sangat menjunjung tinggi prinsip diversifikasi pangan sesuai dengan budaya lokal yang ada.

Kedaulatan pangan juga merupakan pemenuhan hak manusia untuk menentukan sistem pertanian dan pangannya sendiri yang lebih menekankan pada pertanian berbasiskan keluarga—yang berdasarkan pada prinsip solidaritas. Kedaulatan pangan adalah hak setiap bangsa dan setiap rakyat untuk memproduksi pangan secara mandiri dan hak untuk menetapkan sistem pertanian, peternakan, dan perikanan tanpa adanya subordinasi dari kekuatan pasar internasional.

Saat ini, sektor pangan di Indonesia masih menghadapi permasalahan dalam membangun industri pangan yang berkelanjutan. Kendala yang dihadapi berkaitan dengan optimalisasi, yaitu dalam hal pembibitan, produksi, pemrosesan. Ketertinggalan juga ditemui dalam hal sumberdaya manusia, yaitu dalam regenerasi, ketrampilan dan penguasaan Teknologi.

Tidak hanya sebagai sumber pangan dan sumber devisa, sektor pertanian selama ini menjadi penopang kegiatan ekonomi sebagian besar masyarakat Indonesia. Sumbangan PDB terbesar kedua, melibatkan 38 juta penduduk Indonesia yang setara dengan 34 % penduduk Indonesia yang bekerja. Dan dengan 2/3 rumah tangga pertanian berada di perdesaan, yang 55 % penduduk Indonesia merupakan penduduk Desa, maka fokus pembangunan saat ini adalah ke peningkatan ekonomi pertanian yg sustainable (berkelanjutan) dengan potensi demografis Indonesia yang luas dan dengan pengelolaan secara tepat guna sehingga dapat meningkatkan profit perekonomian bagi wilayah-wilayah tersebut.

Pendidikan di tingkat organisasi tani menjadi hal yang signifikan untuk memperkuat perjuangan kedaulatan pangan ini, demi untuk memperdalam kemampuan rakyat membangun swasembada pangan secara swakelola dan meningkatkan daya saing pertanian di tingkat nasional hingga daerah.

Kedaulatan pangan akan tercapai apabila petani sebagai penghasil pangan mampu memiliki, menguasai dan mengkontrol alat-alat produksi pangan seperti tanah, air, benih dan teknologi serta akses ke pasar dengan mata rantai yang singkat. Termasuk peningkatan wawasan pertanian rakyat yang berkelanjutan, dengan memperbaiki kualitas tanah, lingkungan serta memahami produksi yang aman bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Energi Kita

Di sektor minyak dan gas kita sampai dengan belum lama belakangan ini, 67% lahan minyak dikuasai asing, 21% kerja sama dengan perusahaan asing dan sisanya untuk perusahaan nasional. Faktanya, keberadaan asing tak cukup membantu sektor energi Indonesia dalam waktu lama. Tergadainya kedaulatan energi kita, tidak membuat ketahanan energi kita menguat, melainkan semakin rapuh. Mayoritas operator migas tak cukup membantu untuk terus mengamankan stok energi di dalam negeri. Sudah lebih dari 10 tahun kita tercatat sebagai net oil importer. Dalam lebih dari satu dekade terakhir, tingkat produksi minyak bumi Indonesia terjun dari 1,45 juta barel per hari menjadi 0,95 juta barel per hari, atau menurun rata-rata 3,8 persen per tahun.

Produksi minyak tertinggi setelah puncak tertinggi pada 1977 sebesar 1,68 juta bph tak pernah tercapai kembali dan mentok pada 1997 di level produksi 1,5 juta bph dan terus melorot hingga kini. Pada tahun 2020, diperkirakan produksi minyak Indonesia akan jatuh ke level 400 ribu barel per hari. Di sektor gas, saat ini Indonesia merupakan produsen gas bumi terbesar kesepuluh di dunia dan terbesar kedua di Asia Pasifik. Tapi fakta tersebut belum memberikan benefitnya buat bangsa. Nyatanya, lebih dari separuh total produksi gas di dalam negeri dialokasikan untuk ekspor, baik dalam gas alam cair (LNG) maupun gas bumi. Padahal, permintaan konsumsi gas di dalam negeri terus melonjak seiring terus naiknya konsumsi minyak. Maka, gap antara suplai dan permintaan gas akan semakin melebar, mengancam pertumbuhan sektor industri dan kesinambungan pasokan energi primer untuk pembangkitan listrik.

Dari gambaran Neraca Gas Nasional yang dibuat Ditjen Migas, gap antara permintaan dan suplai gas dari lapangan existing akan melebar ke level 3.500 mmscfd pada 2015 dan bertambah lebar lagi menjadi 4.200 mmscfd (sama dengan 700 ribu barel setara minyak per hari) pada 2020. Potensi gas bumi nasional cukup baik. Berdasarkan data terakhir SKK Migas yang menunjukkan cadangan terbukti (proven) sebesar 100,25 TSCF, dan cadangan potential sebesar 49,04 TSCF. Dengan kapasitas produksi gas bumi sebesar 3,26 TSCF per tahun rasio antara cadangan terbukti dan produksi gas bumi mencapai 32 tahun. Saat ini cadangan dan produksi energi Indonesia terdiri Minyak Bumi dengan sumber daya 56,6 miliar barel, cadangan 8,4 miliar barel, produksi 348 juta barel dan rasio cadangan/produksi 24 tahun. Gas bumi dengan sumber daya 334,5 TSCF, cadangan 165 TSCF, produksi 2,79 TSCF dan rasio cadangan/produksi 59 tahun.

Batubara dengan sumber daya sekitar 161 miliar ton, cadangan kurang lebih 28 miliar ton dan produksi berkisar 391 juta ton per tahun, sedangkan rasio cadangan/produksi 93 tahun. Coal bed methane (CBM) dengan sumber daya 453 TSCF. Tenaga air 75,67 GW, panas bumi 27 GW, mikro hydro 0,45 GW, biomass 49,81 GW, tenaga surya 4,8 kWh/m2/day, tenaga angin 9,29 GW dan uranium 3 GW untuk 11 tahun (hanya di Kalan, Kalimantan Barat). Dengan cadangan energi sebesar itu, sudahkah kita benar-benar tahan dan berdaulat? Belum. Sekarang ini 48,4% gas dan 76,3% batubara kita dijual ke luar negeri (IEA, 2007), 41,3% minyak bumi kita juga diekspor (Sumber: Kementerian ESDM)